Showing posts with label C1. SAINS. Show all posts
Showing posts with label C1. SAINS. Show all posts

Friday, April 5, 2019

DANAU DAN MACAM-MACAMNYA

Danau adalah salah satu bentuk perairan darat yang sering ditemui. Secara sederhana, danau dapat diartikan sebagai cekungan pada permukaan Bumi yang biasanya berbentuk mangkuk yang terisi oleh kumpulan air (umumnya air tawar) secara alamiah dalam jumlah relatif besar. Sebagian besar sumber air yang mengisi dan memberikan suplai air pada danau berasal dari air hujan dan aliran sungai yang bermuara ke danau tersebut. Mata air dan air tanah juga dapat mengisi danau. Dalam hal demikian umumnya danau bersifat permanen, artinya tetap berisi air sepanjang tahun. Sebaliknya, jika sumber air pengisi danau hanya satu macam saja seperti dari air hujan, maka umumnya danau tersebut bersifat temporer atau periodik. Jadi, danau itu dapat kering pada waktu-waktu tertentu.

Berdasarkan macam airnya, danau dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

a.       Danau air asin. Pada umumnya danau air asin terdapat di daerah semiarid atau arid (gersang), di mana terjadi penguapan yang sangat kuat dan tidak memiliki aliran keluaran. Kalau danau semacam ini menjadi kering, maka tersisa lapisan garam di dasar danau tersebut. Danau-danau yang bersifat temporer banyak terdapat di daerah arid yang memiliki kadar garam tinggi. Contoh danau air asin adalah Great Salt Lake di Amerika dan Laut Mati di Yordania.

Great Salt Lake
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=pIJvh8GiyKc

b.      Danau air tawar. Danau ini terutama berada di daerah humid (basah) yang memiliki curah hujan tinggi. Pada umumnya, danau ini mendapatkan air dari curah hujan dan selalu mengalirkan airnya ke laut. Jadi danau ini merupakan danau terbuka. Hampir semua danau din Indonesia adalah danau air tawar.

Menurut proses terbentuknya, danau dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut.

a.       Danau Tektonik, yaitu danau yang terbentuk dari adanya proses tektonik yang menyebabkan dislokasi lapisan batuan, seperti lipatan dan patahan. Pada bagian permukaan Bumi yang mengalami penurunan terisi oleh air dalam jumlah yang cukup (air hujan, sungai, mata air) sehingga terbentuk danau. Contoh danau tektonik yang berada di Indonesia adalah Danau Poso, Singkarak, Tempe, dan Tondano. Contoh Danau tektonik di luar Indonesia adalah Danau Tanganyika di Afrika Timur.

b.      Danau Vulkanik, yaitu jenis danau yang berada pada bekas lubang kepundan (kawah) sebuah gunung berapi, jadi danau ini terbentuk karena aktivitas vulkanis. Pada bekas suatu letusan gunung berapi akan timbul suatu cekungan yang disebut depresi vulkanis. Kalau dasar cekungan tersebut tertutup oleh material vulkan yang kedap air, air hujan yang jatuh akan tertampung dan membentuk danau vulkanik. Bentuk dan luas danau vulkanik dipengaruhi oleh jenis proses vulkanis yang membentuknya. Tipe gunung api maar akan terbentuk danau maar. Pada gunung api yang letusannya kaldera, akan terbentuk danau kaldera yang luas. Contoh danau vulkanik adalah Danau Kelimutu, Kerinci, Rinjani, Telaga Warna, dan Danau Batur.

c.       Danau Tekto-Vulkanik, yaitu jenis danau yang terbentuk akibat gabungan proses tektonik dan vulkanik, misalnya Danau Toba.

Danau Toba
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=-UNn0YKpdoU

d.      Danau Karst (Dolina), yaitu danau yang dapat dijumpai pada wilayah berbatu gamping/karst sebagai hasil dari pelarutan batu kapur yang membentuk cekungan-cekungan yang terisi air. Umumnya berupa danau kecil yang bersifat temporer. Jika di dasar dan tebing dolina terdapat bahan geluh lempung yang merupakan bahan kedap air, maka air hujan yang jatuh akan tertampung di dolina dan tidak dapat terus masuk ke tanah kapur, sehingga terbentuk danau dolina. Danau dolina juga dapat terjadi karena adanya air yang tinggi di dalam tanah kapur. Sebenarnya batuan gamping tidak tembus air, namun karena memiliki celah-celah yang teratur maka air hujan yang jatuh tetap masuk dan meresap ke bawah. Jika lapisan tanah di bawah lapisan gamping merupakan lapisan kedap air dan curah hujan di daerah tersebut besar, maka air yang yang tersimpan di lapisan gamping sudah cukup tinggi sehingga bagian bawah dolina dapat berada di dalam permukaan air karst tersebut.

e.       Danau Glasial, yaitu jenis danau yang terbentuk akibat erosi oleh gletser. Jenis danau glasial banyak ditemukan di wilayah sekitar kawasan iklim kutub. Setelah zaman es berakhir, daerah-daerah yang dulunya dilalui gletser menjadi kering dan terisi oleh air. Jika lembah yang telah berisi air tersebut tidak berhubungan dengan laut, maka lembah itu akan menjadi danau. Contoh danau glasial adalah Danau Michigan, Danau Superior, dan Danau Ontario yang berada di antara Kanada dan Amerika Serikat.

Danau Superior dari atas
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=Ekgic7aHc50

f.       Cirques yaitu danau yang airnya berasal dari pencairan es. Cirques dapat ditemukan di wilayah pegunungan tinggi yang sebagian tubuhnya tertutup massa es.

Danau Cirques di Taman Nasional Callaghan, Kanada
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=5fN9Iu3aclM

g.      Danau Terbendung, dapat terbentuk ketika bahan-bahan seperti runtuhan gunung atau aliran lava yang membendung lembah sungai, sehingga aliran airnya akan tertahan dan akhirnya membentuk danau. Di sini juga temasuk danau buatan yang disebut Bendungan/Waduk, misalnya Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, Jawa Tengah dan Waduk Jatiluhur di Jawa Barat.

Waduk Gajah Mungkur
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=7mKodBqJkl4


Salah satu genangan Waduk Gajah Mungkur

h.      Danau karena erosi sungai, misalnya danau tapal kuda.




Proses terbentuknya danau tapal kuda
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=4qKS_Nk7UmY

Persembahan dari


(Benteng Terpadu Raya)



Referensi:
·         Wardiyatmoko, K. 2004. Geografi SMA Jilid 1 untuk Kelas X Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi. Jakarta: Erlangga.
·         Utoyo, Bambang. 2009. Geografi 1 Membuka Cakrawala Dunia untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
·         Soegimo, Dibyo dan Ruswanto. 2009. Geografi: untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
·         Rahayu, Saptanti dkk. 2009. Nuansa Geografi 1: untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional


Thursday, March 28, 2019

KUALITAS FISIK AIR SUNGAI DAN BERBAGAI PEMANFAATANNYA

Sungai adalah salah satu sumber daya alam yang merupakan karunia dari Tuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup di Bumi. Namun di zaman sekarang, manfaat sungai semakin berkurang karena banyak sungai yang sudah tercemar akibat ulah manusia, misalnya akibat limbah industri, limbah rumah tangga, pertanian, dan buangan minyak. Menurut cerita orang tua bahwa pada zaman dahulu, ketika air sungai belum tercemar, masyarakat di sekitar sungai terbiasa memanfaatkan sungai untuk kebutuhan sehari-hari, seperti kebutuhan air bersih untuk minum, mandi, dan mencuci. Selain itu sungai juga merupakan sumber perikanan air tawar. Oleh karena itu, banyak ditemukan perkampungan-perkampungan penduduk tradisional sepanjang aliran sungai. Saat ini sudah jarang ditemukan masyarakat yang memanfaatkan air sungai secara langsung, kecuali di daerah-daerah tertentu seperti pulau Kalimantan dan Sumatera.

Kualitas air untuk kebutuhan hidup harus memenuhi standar kesehatan, khususnya untuk air minum. Syarat-syarat air minum yang baik adalah harus jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak ada kandungan zat organik yang menimbulkan penyakit. Pada zaman sekarang, pengambilan air sungai untuk langsung diminum adalah hal berbahaya bagi tubuh. Di pemukiman modern, air sungai untuk keperluan air minum harus diolah dulu melalui pembersihan dan penyaringan yang dilakukan oleh PAM (Perusahaan Air Minum).

Salah satu negara yang memiliki banyak sungai adalah Indonesia. Sudah banyak media massa yang membahas mengenai kualitas sungai di Indonesia. Kualitas air sungai di pulau terpadat di Indonesia, pulau Jawa, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Tangerang, dan Surabaya cenderung menurun. Penurunan kualitas air sungai dapat diketahui dengan adanya perubahan kadar parameter tertentu seperti kadar pH, kadar oksigen terlarut / Dissolved Oxygen (DO), kebutuhan oksigen biologi / Biological Oxygen Demand (BOD) dan kebutuhan oksigen kimiawi / Chemical Oxygen Demand (COD). Parameter BOD dan COD sungai-sungai di seluruh provinsi di pulau Jawa yang telah melampaui baku mutu yang ditetapkan, di antaranya sungai Ciliwung, Sunter, Citarum, Kaligarang, Bengawan Solo, dan Kali Surabaya. Pada dasarnya sudah ada usaha untuk normalisasi beberapa sungai tersebut, namun belum dapat dikatakan berhasil dengan baik. Hal ini juga harus didukung oleh masyarakat untuk turut menjaga kelestariannya.

Derajat keasaman atau pH adalah kriteria kualitas kimia. Air yang baik harus bersifat netral (pH sekitar 7), jadi tidak ada zat pencemar yang mengubah sifat air menjadi asam atau basa. Menurut Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (Indonesia) No. Kep-03/MNKLH/II/1991, 1 Februari 1991 ditetapkan bahwa air limbah pabrik boleh dibuang ke sungai jika pH air limbah berkisar 6 sampai 9.  BOD adalah banyaknya oksigen yang diperlukan untuk mendegradasi (memecah) sampah organik, sedangkan COD adalah banyaknya oksigen yang diperlukan untuk memecah limbah anorganik.

Apabila di suatu perairan banyak mengandung sampah organik, jumlah oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk mendegradasi sampah tersebut akan banyak, dan berarti angka BOD tinggi sehingga angka DO rendah. Dengan banyaknya oksigen untuk mendegradasi sampah maka kadar oksigen terlarut dalam air akan menurun. Hal yang sama juga terjadi jika angka COD tinggi. Perairan dengan BOD tinggi biasanya menimbulkan bau tidak sedap. Jika angka BOD tinggi dan angka DO rendah maka degradasi sampah organik akan berlangsung anaerob (tanpa oksigen). Proses anaerob adalah oksidasi yang tidak menggunakan oksigen sehingga menghasilkan senyawa NH3, H2S, CH4 yang berbau tidak sedap. Tingginya angka BOD dan COD serta rendahnya angka DO menyebabkan hewan-hewan dan tumbuhan air sulit berkembang, bahkan mati.



Kekeruhan Sungai Bengawan Solo dari Atas
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=O6OUh8NQ7Y0


Hulu Bengawan Solo, Kali Wiroko di kabupaten Wonogiri, sudah mengalami sedimentasi yang berlebihan. Air sungai ini mengalir ke Waduk Gajah Mungkur dan menuju Bengawan Solo
Sumber Objek: Dokumentasi Pribadi

Kekeruhan air pada sungai-sungai di pulau Jawa umunya menunjukkan level yang cukup tinggi. Perkiraan jumlah lumpur yang terbawa oleh sungai-sungai di pulau Jawa dapat mencapai 25 juta ton per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa erosi tanah telah terjadi di bagian hulu.

Pengaturan terhadap pemanfaatan sungai menjadi hal yang penting karena berkaitan dengan nilai ambang batas pencemaran. Dasar penentuan manfaat sungai adalah dominasi pemanfaatan di wilayah tersebut, berdasarkan kualitas air sungai saat itu. Kalangan pemakai air dan mereka yang secara potensial mencemari air harus berperan aktif menjaga dan memanfaatkan air sungai dengan baik dan diharapkan dapat mengatasi permasalahan kuantitas dan kualitas air. Upaya Prokasih (program kali bersih) di Indonesia merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi pencemaran sungai. Program ini adalah kegiatan yang terpusat dan bertujuan untuk menurunkan jumlah zat pencemar yang masuk ke sungai, sehingga sungai dapat dimanfaatkan secara layak dan aman bagi kehidupan.

Sungai memiliki manfaat yang sangat penting bagi kehidupan manusia, misalnya sebagai berikut.
a.       Sungai banyak mengandung bahan-bahan bangunan seperti pasir, batu kali, dan kerikil.



Aktivitas pengambilan Pasir Gunung Berapi Merapi di kabupaten Klaten
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=5JYOpeX3s7o

b.      Sungai dapat menyediakan mata pencaharian bagi penduduk seperti pengambilan pasir, batu-batu, mencari bijih emas, intan, timah aluvial, dan perikanan.
c.       Air terjun pada sungai dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.
d.      Sungai dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi, misalnya dengan dibuat bendungan atau waduk. Dengan adanya bendungan, juga dapat dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Contoh Waduk adalah Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, Jawa Tengah, dan Waduk Jatiluhur di Jawa Barat,


Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri yang berfungsi sebagai PLTA
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=7mKodBqJkl4

e.       Dapat meningkatkan kesusburan tanah karena sungai banyak mengandung mineral yang banyak dibutuhkan bagi tanaman.
f.       Hasil pengendapan sungai dapat menjadi dataran aluvial yang subur.
g.      Sungai memiliki peranan penting bagi kelangsungan suatu industri yang banyak memerlukan air, misalnya industri bata, genting, dan lain-lain.
h.      Sungai sebagai sarana untuk berlalu lintas dengan transportasi air. Hal ini biasa terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki sungai-sungai besar, seperti di Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Contoh sungai-sungai tersebut adalah sungai Kapuas, Barito, dan Musi.
i.        Budi daya perikanan air tawar.
j.        Rekreasi dan olah raga air.


Referensi:
·         Wardiyatmoko, K. 2004. Geografi SMA Jilid 1 untuk Kelas X Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi. Jakarta: Erlangga.
·         Utoyo, Bambang. 2009. Geografi 1 Membuka Cakrawala Dunia untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
·         Soegimo, Dibyo dan Ruswanto. 2009. Geografi: untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
·         http://www.bintangmedia.id/indikator-kualitas-air-ph-bod-do-cod/

Friday, March 15, 2019

PENJELASAN TENTANG DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)

Daerah Aliran Sungai (DAS) terbentuk dari kumpulan sungai pada suatu sistem cekungan dengan aliran keluar atau muara tunggal. Daerah Aliran Sungai adalah wilayah tampungan air yang masuk ke dalam wilayah air sungai yang lebih besar dan berakhir pada suatu keluaran (muara). Batas wilayah DAS diukur dengan cara menghubungkan titik-titik tertinggi di antara wilayah aliran sungai yang satu dengan yang lain. Antara satu daerah aliran sungai dengan daerah aliran sungai lainnya biasanya dibatasi jalur punggungan berupa perbukitan atau pegunungan. Wilayah pembatas dua DAS dikenal sebagai Batas Pengaliran Sungai (igir).

Banyak sekali lahan DAS di Indonesia yang kini berada dalam kondisi kritis. Sebagian areal hutan, terutama di daerah hulu sungai, telah berubah menjadi semak belukar, bahkan gundul atau hampir tanpa pepohonan. Hingga kini kerusakan DAS masih terus berlangsung.

Masalah DAS di Indonesia kini kebanyakan terpusat pada banjir yang berulang kali menimpa areal yang terjadi di daerah bawah/daerah datar. Hal ini tidak hanya menyebabkan produktivitas tanah menurun, tetapi juga menimbulkan masalah pengendapan lumpur dan pasir lembut pada waduk, saluran irigasi, dan proyek tenaga air. Hal ini merupakan hasil dari pengelolaan tanah yang tidak tepat, seperti sistem perladangan berpindah dan pertanian lahan kering, tanpa perlakuan konservasi yang tepat dan tidak mengikuti pola tata guna tanah.

Maka, untuk menanggulangi bencana banjir, di daerah hulu harus terdapat banyak tumbuhan atau vegetasi karena posisi daerah hulu sebagai daerah penyangga. Hal ini perlu dijaga agar debir air tetap (seimbang), baik di musim kemarau maupun di musim hujan. Selain itu, untuk menjaga keseimbangan ekosistem DAS, juga harus diperhatikan masalah limbah, baik limbah rumah tangga maupun industri.

Faktor-faktor yang memengaruhi DAS adalah iklim, jenis batuan yang dilalui DAS, dan banyak sedikitnya air yang jatuh ke alur pada waktu hujan. Sedangkan cepat atau lambatnya air hujan terkumpul di suatu alur sangat dipengaruhi oleh bentuk lereng DAS. Di dalam wilayah daerah aliran sungai terdapat bentukan alam seperti meander, dataran banjir, dan delta.

Perhitungan banyaknya hujan di DAS dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu:
1.      Isohyet, digunakan apabila luas DAS lebih besar dari 5.000 km2. Isohyet adalah garis dalam peta yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai jumlah curah hujan yang sama dalam satu periode tertentu.
2.      Thiessen, digunakan apabila bentuk DAS tidak memanjang dan sempit, dengan luas antara 1.000 – 5.000 km2.


Isohyet
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=n9eKQQiD86Q


Thiessen
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=ztiBYCMY4PI

Daerah-daerah aliran sungai dibagi menjadi tiga yaitu di daerah hulu sungai, daerah tengah sungai, dan daerah hilir sungai.


Penampang DAS
Sumber Objek : https://www.youtube.com/watch?v=F8iwXlaNDpY

Umumnya, DAS di hulu sungai berbukit-bukit dan berlereng curam sehingga banyak ditemukan jeram dan air terjun. Lembah sungai di hulu umumnya menyerupai huruf V dengan tebing curam, karena aliran sungai masih sangat deras sehingga proses erosi menggerus ke dasar sungai. Di sekitar badan sungai terdapat banyak bongkahan batu yang berukuran besar dan bersudut relatif runcing. Daerah ini banyak dimanfaatkan untuk lahan ladang sayuran, perkebunan, atau hutan yang merupakan daerah penyangga. Di sekitar aliran sungai terdapat beberapa pemukiman penduduk.

DAS di bagian tengah sungai, keadaannya adalah berupa kawasan dataran yang relatif landai sehingga jalur transportasi dan komunikasi relatif mudah. Kondisi wilayah yang landai memungkinkan proses erosi berlangsung ke arah vertikal dan lateral secara seimbang, sehingga bentuk lembah biasanya menyerupai huruf U. Di sekitar badan sungai terdapat banyak batu-batu guling yang permukaannya relatif bulat dan ukurannya tidak sebesar batuan di hulu. Batu-batu guling yang permukaannya relatif bulat terjadi akibat pemolesan oleh material yang diangkut air sungai, terutama kerikil dan pasir. Di daerah tengah sudah jarang ditemukan jeram atau air terjun, bahkan tidak ada. Daerah ini merupakan tempat aktivitas penduduk.

Di daerah hilir sungai, DAS merupakan daerah yang landai dan subur. Oleh karena itu, daerah ini banyak dimanfaatkan untuk pemukiman dan areal pertanian (misalnya areal tanaman padi, jagung, dan tanaman kelapa). Kawasannya sangat datar dan mendekati muara sungai. Air sungai mengalir dengan sangat lamban dan banyak ditemukan aliran sungai yang berkelok-kelok (meander). Kali mati/danau tapal kuda (oxbow lake) yaitu aliran meander yang terpotong dapat ditemukan di daerah hilir. Daerah hilir merupakan daerah dataran banjir yang cukup luas dan bentuk lembahnya sangat lebar.  Di hilir juga terdapat banyak bantaran sungai sebagai hasil sedimentasi lumpur dan pasir-pasir lembut.

Di Indonesia, banyak sekali bencana yang berhubungan dengan sungai, misalnya banjir. Banjir terjadi karena ada kerusakan fungsi sungai. Hal ini pertanda bahwa kondisi Daerah Aliran Sungai juga bermasalah. Pembangunan yang tidak sesuai dengan lingkungan adalah penyebabnya, namun tak ada penyelesaian masalah yang bersifat total dan integrasi antar pihak kurang baik. Menurut Menteri KLHK, Siti Nurbaya, pernah menyatakan bahwa 2.145 Daerah Aliran Sungai di Indonesia harus dipulihkan. Perlu tindakan strategis dan nyata dari berbagai pihak untuk memulihkan lingkungan yang telah rusak.

Kelestarian lingkungan akan memberikan manfaat bagi semua pihak. Jika Daerah Aliran Sungai dapat dipulihkan, akan mampu mendukung kebutuhan sumber daya generasi baik sekarang maupun masa depan.



Contoh sungai Wiroko (salah satu hulu Bengawan Solo, sungai terbesar di Jawa) saat musim hujan, dilihat dari Jembatan Karangturi, Bulurejo, Nguntoronadi, Wonogiri

Sungai Wiroko saat kemarau, dilihat dari tempat yang sama


Referensi:
·         Wardiyatmoko, K. 2004. Geografi SMA Jilid 1 untuk Kelas X Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi. Jakarta: Erlangga.
·         Rahayu, Saptanti dkk. 2009. Nuansa Geografi 1: untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
·         Utoyo, Bambang. 2009. Geografi 1 Membuka Cakrawala Dunia untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
·         https://news.detik.com/kolom/d-4436027/integrasi-pengelolaan-daerah-aliran-sungai


Thursday, February 28, 2019

PENGERTIAN SUNGAI DAN PROSES PEMBENTUKAN LEMBAH SUNGAI

Sungai adalah air tawar yang mengalir dari sumbernya menuju atau bermuara di laut, danau, atau sungai yang lebih besar. Sungai-sungai tersebut mengangkat berbagai material dan terus diendapkan. Akibat dari proses ini maka terbentuklah lembah sungai, yaitu suatu  bentuk permukaan yang lebih rendah daripada bagian lainnya yang dihasilkan oleh pengikisan air atau erosi sungai.

Lembah sungai di Grand Canyon
Sumber objek: https://www.youtube.com/watch?v=ezpqDi42pRM

Erosi sungai atau dapat disebut ablasi (pengikisan oleh air) adalah peristiwa pindahnya suatu batuan atau tanah yang disebabkan oleh air sungai yang mengalir secara terus-menerus. Erosi dasar adalah erosi yang terjadi di dasar sungai yang nantinya akan menyebabkan dasar sungai menjadi lebih dalam. Erosi tepi adalah erosi yang terjadi di tepi sungai yang nantinya akan menyebabkan pelebaran pada masing-masing sisi bagian sungai.

Ada beberapa tahapan yang dapat menjelaskan terjadinya pengikisan oleh aliran air sungai, yaitu:
1.      Air sungai yang mengalir menimbulkan gesekan pada tanah. Dan besar kecilnya gesekan yang terjadi dipengaruhi oleh besar kecilnya air yang mengalir.
2.      Gesekan semakin besar jika kecepatan dan jumlah air juga semakin besar.
3.      Kecepatan air juga semakin besar jika gradien atau kemiringan lahan semakin besar.
4.      Gesekan antara air dengan benda padat yang terangkut oleh air dengan tanah atau batuan yang ada di dasar inilah yang dapat menimbulkan pengikisan.

Proses terbentuknya lembah sungai terjadi melalui tiga proses, yaitu pendalaman, pelebaran, dan pemanjangan.
a.      Pendalaman lembah sungai
Pada daerah hulu sungai, proses erosi berlangsung sangat kuat karena perbedaan ketinggian sangat besar. Kecepatan aliran yang besar menyebabkan proses erosi dan transportasi bekerja lebih dominan. Kekuatan erosinya bekerja dengan cara menumbuk dan menggerus dasar sungai yang disebut pengikisan hidrolik. Kemudian dilanjutkan pengikisan mekanik, yaitu serpihan batuan yang terbawa oleh aliran yang deras juga turut mengikis dan mempercepat pendalaman saluran. Selain itu, juga terjadi pengikisan kimiawi, yaitu proses pelarutan dan reaksi asam terhadap dasar dan tepi saluran sungai.
b.      Pelebaran lembah sungai
Pada daerah datar, proses erosi yang paling dominan adalah erosi menyamping (lateral) karena lambatnya kecepatan arus air yang mengalir. Sifatnya melebarkan saluran lembah sungai. Juga terjadi proses penambahan endapan dari materi longsoran (mass wasting) lereng-lereng di atasnya yang disebut proses agradasi yang turut mempercepat pelebaran lembah sungai.
c.       Pemanjangan lembah sungai
Peristiwa ini terjadi karena penurunan permukaan laut, sehingga daratan bertambah maju. Dan karena pertumbuhan delta, muka daratan pun bertambah. Delta adalah endapan-endapan di muara sungai yang berasal dari tanah, pasir, batu-batu kecil, dan berbagai material yang dibawa oleh aliran sungai sampai ke tepi laut.





Skema Pembentukan Delta
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=XINpPb8XwJU

Jika hasil perusakan yang dibawa aliran air sungai sudah sangat banyak dan tidak dapat terbawa air lagi, maka hasil pelapukan yang dibawa air tersebut akan terkumpul di suatu tempat. Di sini erosi berhenti, namun dilanjutkan pengikisan ke arah samping. Maka sebuah sungai yang awalnya mengalir agak lurus menjadi berbelok-belok dan membentuk meander (kelokan). Karena adanya meander, lembah-lembah sungai menjadi bertambah luas.




Pembentukan Meander
Sumber Objek: https://www.youtube.com/watch?v=4qKS_Nk7UmY
Perkembangan suatu lembah sungai menunjukkan umurnya. Umur di sini adalah umur relatif berdasarkan kenampakan bentuk lembah tersebut yang terjadi dalam beberapa tingkat (stadium). Pada stadium awal, gradien sungai masih besar sehingga daya kikis vertikal besar. Pada stadium ini dataran asli baru saja terbentuk. Hal ini dapat disebabkan oleh pengangkatan dasar laut ke atas permukaan atau erupsi (peletusan) gunung-gunung berapi yang menghasilkan sedimentasi yang sangat banyak sehingga terbentuk permukaan daratan yang baru. Di beberapa tempat terdapat permulaan sungai dengan lembah yang kecil-kecil. Jadi pada stadium ini daerah di sekitarnya masih merupakan bentuk antaraliran dan erosi baru mulai terjadi.

Aliran sungai dibagi menjadi dua, yaitu sungai stadium muda dan dewasa.

Ciri-ciri sungai stadium muda adalah sebagai berikut.
1.      Penampang melintang lembah berbentuk V. Hal ini terjadi karena daya kikis vertikal yang kuat akibat gradien masih besar.
2.      Sungai masih banyak mempunyai erosi basis sementara.
3.      Daya angkut aliran sungai besar.
4.      Lebar pada bagian bawah lembah sama dengan lebar saluran sungai.
5.      Dasar lembah belum rata.

Ciri-ciri sungai stadium dewasa adalah sebagai berikut.
1.      Gradien sungai menjadi lebih kecil.
2.      Erosi lateral atau ke samping. Sedangkan erosi vertikal praktis sudah tidak terjadi.
3.      Telah mengalami pendataran dasar sungai.
4.      Lembah membentuk huruf U, yang ukuran lebarnya melebihi dalamnya.
5.      Pada dasar lembah terdapat dataran banjir (flood plain) dan pada flood plain sungai membentuk kelokan (meander)
6.      Sudah tidak ada erosi dasar sehingga dasar lembah sungai sudah merata.


Referensi:

·         Wardiyatmoko, K. 2004. Geografi SMA Jilid 1 untuk Kelas X Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi. Jakarta: Erlangga.
·         Rahayu, Saptanti dkk. 2009. Nuansa Geografi 1: untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
·         https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hidrologi/pengikisan-oleh-air



BETTERPAD-RAY MOCKUP - Materiaal van de muur van de Shahada-moskee (Masjid Syahadat)

"Sorry If There Is A Deficiency / Error In Translation From Indonesian To Related Languages, Because It Only Uses Google Translate...

Popular posts